Tan Malaka dan Garis Perjuangannya

Tan Malaka merupakan salah satu tokoh revolusioner yang memikili jasa begitu besar bagi indonesia . Karena mempelopori indonesia untuk berjuang mengalahkan para imperialis seperti Belanda , Inggris dan juga Jepang .

Meskipun sebagian besar hidupnya ia habiskan sebagai buronan dan tahanan imperialis .tapi karena kecerdasan dan kelincahannya ia selalu beehasil menyelinap dan masuk ke berbagai negara untuk melancarkan aksinya .

Tan Malaka lahir pada 14 oktober di nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatra Barat . dan meninggal pada 21 februari 1949 pada usia 51 tahun di kediri Jawa Timur . pada oktober 1913, Tan Malaka berangkat ke belanda untuk melanjutkan pendidikan yang di tandai oleh para Tengku di desanya . Semenjak itulah Tan Malaka menghabiskan hidupnya di tanah perantauan, baik sebagai pelajar, pekerja, dan orang buangan. saat belajar inilah, Tan malaka mulai banyak berinteraksi dengan buku – buku pemikiran sosialismekomunisme, seperti Karl Marx, lenin, terutama pasca revolusi besar di Uni soviet.

Pandangan Tan malaka terhadap Indonesia

Saat meletus perang dunia 1 ( 1914 – 1918 ) yang terpusat di eropa membuat Tan malaka tidak bisa kembali pulang, dan dirasakan demokrasi serta kemerdekaan di belanda sangat berbeda dari keterlibatan kolonial. Ia terjun aktif dalam organisasi pelajar dan mahasiswa indonesia, serta selalu bersimpati terhadap sosialisme dan komunisme. Tan malaka pulang ke Indonesia pada 1919, dan bekerja sebagai guru. Saat bekerja itulah tan malaka melihat ketimpangan yang terjadi antara kaum buruh perkebunan dan para majikan perkebunan , ditambah lagi kesewenang – wenangan kaum pemodal.

Melihat kenyataan tersebut, Tan malaka berusaha menjembatani kedua kelompok tersebut dengan cara mengangkat derajat kaum kuli kontrak melalui pendidikan. Akan tetapi, usaha tersebut selalu di halang – halangi oleh pemerintah belanda.

Pada saat tinggal di deli Tan malaka mengajar anak – anak kuli kontrak untuk belajar bahasa melayu. Meski demikian Tan malaka sering sekali mendapatkan kritik dari pembesar belanda yang tinggal di sana. Menurut mereka pelajaran bahasa melayu itu tidak penting dan yang paling urgen bagi anak anak itu adalah tata cara mencangkul dan bekerja, bukan yang lain.

Baca Juga : Raja Tanpa Mahkota (Tjokroaminoto)

Kemerdekaan Kota Cirebon, 2 Hari Sebelum Proklamasi Dibacakan

Resensi Buku Madilog

Kenyataan seperti itulah yang di jumpai Tan malaka selama tinggal di deli. Ia menyaksikan kebobrokan dan ketidak adilan merajalela di mana – mana. Jurang pemisah antara imperialis dan pribumi. Tentunya tidak salah bila orang belanda menyebut deli sebagai tanah emas. Dari tempat inilah mereka mengeruk keuntungan yang begitu besar. Sedangkan , yang terjadi pada kaum pribumi adalah sebaliknya. Mereka harus sengsara di tanah kelahiran mereka sendiri.

Maka dari itu, langkah pertama yang diambil Tan malaka untuk memuluskan langkahnya adalah mencoba bersikap ramah terhadap para prnguasa belanda yang ada di sana. Namun, lama kelamaan Tan malaka semakin muak dengan kebohongan itu. Upaya diplomasi dengan menunjukan sikap ramah yang ia tunjukan kepada belanda justru membuat dirinya semakin terinjak – injak. Saat itulah ia menyadari bahwa yang menjadi salah satu alasan belanda begitu mudah menancapkan kekuasaanya di indinesia adalah sikap ramah tamah atau perasaan enggan itu sendiri.

Pandangan tan malaka tergadap komunis

Tan malaka menilai, antara hak positif dan negatif setiap negara harus seimbang. Pada dasarnya, jika seseorang hanya mampu memenuhi hak positif, sedangkan hak negatifnya tidak terpenuhi, hal ini tidak sempurna. ia juga menilai bahwa tidak ada gunanya seseorang mendapat makanan dan pakaian mewah, tapi ternyata dalam hidupnya ia selalu gelisah karena merasa selalu terancam dan tidak aman. Oleh karena itu, selain hak positif ( mendapatkan makanan, pakaian, dan lain) hak negatif ( lepas bebas dari ketakutan ) juga harus terpenuhi, maka dari itu negara harus mampu menjamin terpenuhinya kedua hak tersebut bagi masing – masing warganya. dan juga untuk menjamin keamanan seorang budak pemerintah harus campur tangan. negara harus berani menjamin keamanan dan keselamatan warganya. Salah satu alat yang begitu memungkinkan untuk menjamin keamanan bagi warganya adalah undang – undang. Negara harus memberiakn jaminan undang – unadang yang dapat melindungi kebebasan warga negaranya untuk menuntut haknya. Baik positif maupun negatif. Tanpa adanya jaminan dari pemerintah mustahil bagi warga untuk mendapatkan haknya.

sinopsis

tan malaka merupakan tokoh revolusioner yang sangat berpengaruh bagi indonesia maupun dunia. Bahkan saat menjadi mahasiswa di belanda ia aktif dalam organisasi pelajar dan mahasiswa indonesia. Serta selalu bersimpati terhadap sosialisme dan komunisme. menurut sejarawan Belanda, Harry A. Poeze, Tan malaka adalah salah satu contoh bagi para pemimpin indonesia. Tan malaka adalah seorang pejuang yang tidak pernah mau takluk terhadap para imperialisme. Pantang bagi Tan malaka untuk berkerjasama dengan orang – orang yang telah menghisap dan mengeruk tanah airnya. Pertentangan tan malaka yang begitu keraslah yang membuat dirinya selalu di buru, di penjara, dan di buang oleh pemerintah imperialis. Tan malaka menilai bahwa negara indonesia seharusnya sama dengan negara – negara revolusi lainnya yang ada di dunia seperti Prancis, Amerika, Inggris dan juga Uni soviet. Yang memperjuangkan hak nya sebagai manusia dan sebagai warga negara. Ia ingin rakyat indonesia terbebas dari belenggu imperialis yang selalu ingin menguasai indonesia dan memecah belah indonesia. dan tujuanya tersebut di tuangkan olehnya melalui paham komunisme. awalnya tujuannya adalah mengangkat derajat bangsa indonesia melalui jalur pendidikan bagi para anak – anak kuli kontrak di deli. tetapi karena para kaum imperialis selalu menghalangi jalanya. Akhirnya ia memutuskan untuk pidah ke semarang, yang dianggap “kota merah ” atau basis gerakan PKI. Awalnya, PKI bernama indische socialis democratishe partai ( ISDP ) yang di dirikan oleh salah satu tokoh revolusioner belanda, pada tahun 1922 ISDP mendapat pengakuan internasional dan akhirnya mengganti nama menjadi PKI.

Pada saat di semarang ia bertemu dengan Tjokroaminoto dan Samaun para pemimpin serikat islam yang mengajaknya bergabung dengan golongnya dan karena beberapa hal akhirnya ia terjun ke dunia politik yang mengakibatkan dirinya harus di tangkap dan di penjara oleh pemerintah belanda karena di anggap membahayakan pemerintah belada, ia di tuduh sebagai pemimpin program komunis internasional bahkan, di tuduh telah memberikan pelajaran ala komunis bagi para pemuda indonesia.

Pada tanggal 13 februari pemerintah belanda menangkapnya dan ia dipenjara di bandung, kemudian di pindahkan ke semarang. Kemudian atas beberapa kali persidangan akhirnya pemerintah belanda membuangnya ke belanda .Namun, meski demikian ia merasa tidak puas dengan perlaluan hukum belanda kepadanya, ia merasa tidak melakukan kesalahan tapi di tangkap begitu saja, tanpa prosedur penangkapan yang harusnya di lakukan secara demokratis.

Dalam masa pembuangannya tersebut tan malaka masih saja aktif dalam gerakan komunis. Ia langsung di minta oleh Dr.Van Revenstijn untuk menghadiri rapat dengan kaum komunis dan akhirnya menjadi wakil komunis di wilayah asia tenggara. berkat kecerdikanya akhirnya ia bisa menyebrang selat sunda dan sampai di jakarta. tapi karena jakarta di nilai kurang kondusif ia memutuskan untuk pindah ke rawajati sebagai tempat persembunyiannya pada saat itu indonesia diduduki oleh pemerintah jepang.

Pada saat berada di rawajati dia mendapat informasi dari surat kabar bahwa di kebun binatang jakarta akan di adakan rapat besar dan yang akan berbicara adalah Mr. Syamsudin dan juga Ir. Sukarno. Tan malaka terkejut saat membaca tulisan di tembok dan jalan ; NIPPON cahaya asia ,NIPPON pelindung asia ,dan NIPPON pemimpin asia .

Tan malaka merasa kecewa bahwa ternyata para pemimpin indonesia telah di cekoki dan di iming -iming yang ternyata dapat menjerumuskan rakyat kedalam penjajahan yang lebih menyakitkan lagi.  setelah itu ia memutuskan untuk meninggalkan rawajati menuju bayah dan bekerja di sana. dan disana ia dapat bertemu dengan sukarno dan berdiskusi dengannya tentang kemerdekaan tapi bung karno malah lebih pro terhadap jepang sehingga membuat tan malaka geram dan menilai bung karno terlalu lemah dalam memimpin pergerakan. Bung karno memiliki pendapat lain mengenai kemerdekaan indonesia, menurut bung karno indonesia harus bekerja keras membantu jepang dalam melawan sekutu. Karena pemerintah negeri matahari terbit itu menjanjikan kemerdekaan untuk rakyat indonesia .namun, menurut tan malaka kemerdekaan harusnya direbut, bukan menunggu sebagai hadiah dari bangsa lain.

@DewiSusanti

IIS 2

Facebook Comments Box

2 comments

Tinggalkan Balasan ke Akhir Hayat Sang Teknokrat – Coretan Pelajar Cancel reply

WhatsApp chat